Saturday, 14 May 2016

PSIKOTERAPI - PERTEMUAN KE-2


Definisi dan Sejarah Terapi Humanistik-Eksistensial 
Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force).
Meskipun tokoh-tokoh  psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world) dan menyadari penuh akan keberadaannya (Koeswara, 1986 : 113). Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Sebaliknya, para filsuf eksistensialis percaya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya, dalam hal ini “pilihan” menjadi evaluasi tertinggi dari tindakan yang akan diambil oleh seseorang.
Teori eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para ahli psikologi yang berorientasi eksistensial,mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam.
Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada filosofis yang melandasi terapi. Pendekatan atau teori eksistensial-humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang berhubungan dengan sesama yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.
Pendekatan eksistensial-humanistik mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, sentral memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi. Ia menunjukkan bahwa manusia selalu ada dalam proses pemenjadian dan bahwa manusia secara sinambung mengaktualkan dan memenuhi potensinya. Pendekatan eksistensial secara tajam berfokus pada fakta-fakta utama keberadaan manusia – kesadaran diri dan kebebasan yang konsisten.
Pendekatan Eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksistensial-Humanistik dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
Ø  Konsep Utama Terapi Humanistik-Eksistensial
1. Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesadaran untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para ekstensialis menekan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.
2. Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar-benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
3. Penciptaan Makna
Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, keterasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.
Tujuan-tujuan Terapeutik
    Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak atas kemampuannya.
Fungsi dan Peran Terapis dalam Terapi Humanistik-Eksistensial
Terapis dalam terapi humanistik eksistensial mempunyai tugas utama, yaitu berusaha untuk memahami klien sebagai sesuatu yang ada di dalam dunia ini. Dimana tekhnik yang digunakannya itu selalui mendahului suatu pemahaman yang mendalam terhadap kliennya. Prosedur yang digunakan bisa bervariasi, tidak hanya dari klien yang satu ke klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama.
Ø  Prosedur dan Teknik Terapi
Menurut Baldwin (1987), inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapi
1. Kapasitas Untuk Sadar Akan Dirinya : Implikasi Konseling.
Meningkatkan kesadaran diri, yang mencakup kesadaran akan adanya alternative, motivasi, factor yang mempengaruhi seseorang dan tujuan hidup pribadi, merupakan sasaran dari semua konseling. Adalah tugas terapis untuk menunjukkan kepada klien bahwa peningkatan kesadaran memerlukan imbalan.
2. Kebebasan dan Tanggung Jawab : Implikasi Konseling.
Terapis eksistensial terus-menerus mengarahkan fokus pada pertanggungjawaban klien atas situasi mereka. Mereka tidak membiarkan klien menyalahkan orang lain, menyalahkan kekuatan dari luar, ataupun menyalahkan bunda mengandug. Apabila klien tidak mau mengakui dan menerima pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang menciptakan situasi yang ada, maka sedikit saja motivasi mereka untuk ikut terlibat dalam usaha perubahan pribadi (May & Yalom, 1989; Yalom 1980).
Terapis membantu klien dalam menemukan betapa mereka telah menghindari kebebasan dan membangkitkan semangat mereka untuk belajar mengambil resiko dengan menggunakan kebebasan itu. Kalau tidak berbuat seperti itu berarti klien tak mampu berjalan dan secara neurotik menjadi tergantung pada terapis.
Terapis perlu mengajarkan klien bahwa secara eksplisit mereka menerima fakta bahwa mereka memiliki pilihan, meskipun mereka mungkin selama hidupnya selalu berusaha untuk menghindarinya.
3. Usaha Untuk Mendapatkan Identitas dan Bisa Berhubungan Dengan Orang Lain : Implikasi Konseling. 
Bagian dari langkah terapeutik terdiri dari tugasnya untuk menantang klien mereka untuk mau memulai meneliti cara dimana mereka telah kehilangan sentuhan identitas mereka, terutama dengan jalan membiarkan orang lain memolakan hidup bagi mereka. Proses terapi itu sendiri sering menakutkan bagi klien manakala mereka melihat kenyataan bahwa mereka telah menyerahkan kebebasan mereka kepada orang lain dan bahwa dalam hubungan terapi mereka terpaksa menerima kembali. Dengan jalan menolak untuk memberikan penyelesaian atau jawaban yang mudah maka terapis memaksa klien berkonfrontasi dengan realitas yang hanya mereka sendiri yang harus bisa menemukan jawaban mereka sendiri.
4. Pencarian Makna : Implikasi Konseling.
Berhubungan dengan konsep ketidakbermaknaan adalah apa yang oleh pratis eksistensial disebut sebagai kesalahan eksistensial. Ini adalah kondisi yang tumbuh dari perasaan ketidaksempurnaan atau kesadaran akan kenyataan bahwa orang ternyata tidak menjadi siapa dia seharusnya. Ini adalah kesadaran bahwa tindakan serta pilihan sesorang mengungkapkan kurang dari potensi sepenuhnya yang dimilikinya sebagai pribadi. Manakala orang mengabaikan potensi-potensi tertentu yang dimiliki, maka tentu ada perasaan kesalahan eksistensial ini. Beban kesalahan ini tidak dipandang sebagai neurotik, juga bukan sebagai gejala yang memerlukan penyembuhan. Yang dilakukan oleh terapis eksistensial adalah menggalinya untk mengetahui apa yang bisa dipelajari klie tentang cara mereka menjalani kehidupan. Dan ini bisa digunakan untuk menantang kehadiran makna dan arah hidup.
5. Kecemasan Sebagai Kondisi Dalam Hidup : Implikasi Konseling.
Kecemasan merupakan materi dalam sesi terapi produktif. Kalau klien tidak mengalami kecemasan maka motivasi untuk mengalami perubahan menjadi rendah. Jadi, terapis yang berorientasi eksistensial dapat menolong klien mengenali bahwa belajar bagaimana bertenggang rasa dengan keragu-raguan dan ketidakpastian dan bagaimana caranya hidup tanpa ditopang bisa merupakan tahap yang perlu dialami daam perjalanan dari hidup yang serba tergantung kea lam kehidupan sebagai manusia yang lebih autonom. Terapis dan klien dapat menggali kemungkinan yang ada, yaitu bahwa melepaskan diri dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa disertai dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa berkurang pada saat klien mengalami hal-hal yang ebih memuaskan dengan cara-cara hidup yang lebih baru. Maakala klien menjadi lebih percaya diri maka kecemasan mereka sebagai akibat dari ramalan-ramalan akan datangnya bencana akan menjadi berkurang.
6. Kesadaran Akan Maut dan Ketiadaan : Implikasi Konseling.
Latihan dapat memobilisasikan klien untuk secara sungguh-sungguh memantapkan waktu yang masih mereka miliki, dan ini bisa menggugah mereka untuk mau menerima kemungkinan bahwa mereka bisa menerima keberadaannya sebagai mayat hidup sebagai pengganti kehidupan yang lebih bermakna.
Ø  Tahap-tahap Pelaksanaan Terapi Humanistik Eksistensial
    Pendekatan ini bisa menggunakan beberapa teknik dan konsep psikoanalitik dan juga bisa menggunakan teknik kognitif-behavioral. Metode ini berasal dari Gestalt dan analisis transaksional. Terdapat tiga tahap yang dapat dilakukan oleh terapis dalam terapi humaniatik eksistesial, antara lain :
·   Tahap pendahuluan
Konselor mambantu klien dalam mengidentifikasi dan mnegklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercemin pada eksistensial mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan mereka.
·   Tahap pertengahan
Klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dan sistem mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
·   Tahap akhir
Berfokus untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaan kebebasan pribadinya.
Ø  Kekurangan dan Kelebihan Terapi Humanistik-Ekstensial
1.    Kelebihan
·  Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan
   kepercayaan diri.
· Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri
·  Memanusiakan manusia
·  Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan
   sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
·  Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada
   perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam
  perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam
  perkembangan dari remaja menjadi dewasa
2.    Kelemahan
·  Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
·Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas
· Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya
 (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
·  Memakan waktu lama.

Daftar pustaka :
·         Corey Gerald, 2009, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung: PT Refika Aditama
·         Feist, Jess dan Feist, Gregory. (2010). Teori Kepribadian. New York: Salemba Humanika

   Bentuk-bentuk psikoterapi itu sendiri ada banyak, diantaranya adalah Psikoanalisa terapy yang dikemukakan oleh Freud. Terapi psikoanalisis ini merupakan pengembangan dari teori-teori psikoanalisa dari Sigmund freud, pada teori ini Freud memusatkan perhatiannya pada pentingnya masa kanak-kanak awal. Dalam pandangan ini benih-benih dari gangguan psikologis sudah ditanamkan pada tahun-tahun awal pertumbuhan.

Manfaat dan Tujuan Terapi Psikoanalisa
    Terapi psikoanalitik menghendaki supaya klien neurotik memiliki ego yang cukup lentur untuk bergeser diantara fungsi-fungsi ego yang bertentangan dan memadukannya dengan memperhatikan batas-batas yang ditentukan oleh konflik-konflik neurotik. Secara jelasnya tujuan terapi psikoanalisa itu sendiri adalah untuk menggantikan tingkah laku defensif dengan tingkah laku yang lebih adaptif, dengan berbuat demikian klien dapat menemukan kepuasan tanpa menghukum dirinya sendiri atau orang lain.

Metode Terapi Psikoanalisa
Bentuk-bentuk metode terapi dari psikoanalisa Sigmund freud adalah sebagai berikut:
1.      Asosiasi bebas
Klien melaporkan apa saja yang muncul dalam pikirannya dengan tidak memperhatikan apakah yang dilaporkan itu menyakitkan, memalukan, atau tidak relevan
2.      Katarsis
Menghilangkan ketegangan dan kecemasan yang dilakukan dengan cara menghidupkan kembali suatu kejadian yang traumatis
3.      Analisis mimpi
Mengungkap dan menganalisa simbol-simbol yang tersembunyi dibalik mimpi klien yang muncul secara terus menerus selama terapi berlangsung
4.      Transferensi
Terjadi apabila klien memindahkan kepada terapis emosi-emosi yang terpendam atau yang ditekan sejak kecil (pada masa lalu), transferensi ini ini mungkin akan menyebabkan kelekatan, ketergantungan, bahkan cinta pada terapis, namun bisa juga sebaliknya klien jadi membenci terapisnya.
5.      Penafsiran
Merupakan penjelasan dari makna simbol-simbol, asosiasi, mimpi, resistensi, dan transferensi dari klien. atau dapat juga dikatakan sebagai penafsiran oleh terapis dari pernyataan klien berupa permasalahan yang dialaminya dengan cara yang baru.

Yang dibutuhkan dalam Terapi Psikoanalis
·      Psikoanalisis harus mampu mengadakan prosedur-prosedur teknis tertentu terhadap pasien dan terhadap diri psikoanalis sendiri
·      Tingkat kecerdasan dan budaya yang tinggi dari seorang psikoanalisis
·      Psikoanalisis yang memiliki ketrampilan yang tinggi dalam menerjemahkan pikiran, perasaan, impuls, fantasi, dan ketidaksadaran dari klien
·      Psikoanalisis yang  memiliki empati, intuisi, dan pengetahuan teoritis
·      Dedikasi analisis sebagai dokter kepada pasien harus jelas
·      Analis harus berfungsi sebagai pemandu dalam mengantar pasien ke dalam dunia perawatan psikoanalitik yang baru dan aneh
·      Analis harus mampu melindungi harga diri dan perasaan akan martabat klien
Proses Terapi Psikoanalisa Mencapai Keberhasilan dalam Diri Individu
=>Freud menggunakan psikoanalisa untuk membantu klien memperoleh pemahaman mengenai konflik-konflik tak sadar dan memecahkannya. Apabila metode ini mulai mengembangkan dalam diri pasien suatu pemahaman baru terhadap kekuatan-kekuatan kepribadiannya, maka psikoanalitis sudah berada pada jalan menciptakan penyesuaian diri yang berhasil dari pasien terhadap lingkungannya. Bila perawatan psikoanalitik berhasil maka pasien tidak lagi menderita simtom-simtom yang melumpuhkannya.
Kekurangan Terapi Psikoanalisa
  Namun teori Freud yang menjadi dasar psikoanalisis sekarang kurang populer dibandingkan masa lalu, oleh karena itu muncul lah banyak pertanyaan yang dikemukakan sehubungan dengan efektifitas dari prosesnya, dan meskipun orang menerima teori freud dan berpendapat bahwa psikoanalisa adalah efektif, tetapi untuk kebanyakan orang dewasa ini psikoanalisis bukan merupakan suatu tekhnik yang praktis karena waktu yang dibutuhkan sangat lama dan biayanya pun juga sangat mahal.
Terapi Psikodinamik Modern
Terapi psikodinamik merupakan pengembangan dari psikoanalisa, pada saat ini muncul bentu-bentuk baru terapi psikodinamik yang lebih singkat dan kurang insentif dibandingkan dengan terapi psikoanalisa tradisional dari Freud. Pendekatan terapi psikodinamik yang lebih baru ini lebih dikenal dengan terapi psikoanalitik yang membantu pasien untuk mencari bentuk-bentuk perawatan yang lebih singkat dan relatif murah dari psikoanalisa tradisional. Seperti terapi psikoanalisa Freud, pendekatan baru ini juga memusatkan perhatian pada usaha membantu pasien melakukan perubahan-perubahan yang produktif dan juga pada hubungan pasien sekarang.

Tetapi karena formatnya lebih singkat terapi membutuhkan peneyelidikan lebih langsung mengenai pertahanan-pertahanan dan hubungan-hubungan transferensi pasien. pada melakukan waktu melakukan terapi, terapis pada umumnya duduk erhadapan dengan klien, dan hal ini berbeda dengan psikoanalisa tradisional dimana terapis duduk di belakang pasien yang berbaring diatas dipan sambil berasosiasi bebas. Pada terap psikodinamik terapis lebih sering melakukan percakapan-percakapan dibandingkan terapi psikoanalisa tradisional.

Daftar pustaka :
Gunadarsa. D. Singgih. 2004. Dari anak sampai anak usia lanjut. Jakarta : Gunung mulia
Semiun. Yustinus, OFM. 2006. Kesehatan mental 2. Yogyakarta : Kanisius
Semiun. Yustinus, OFM. 2006. Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Yogyakarta : Kanisius


Terapi Humanistik
Istilah eksistensi berasal dari akar kata ex-sistere, yang secara literal berarti bergerak atau tumbuh ke luar. Psikologi Eksistensial atau sekarang berkembang dengan nama psikologi Humanistik atau psikologi holistic berawal dari kajian filsafat yang diawali dari Sorean Kierkigard tentang eksistensi manusia.
Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep- konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir ketiadaan.
Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
Eksistensial Psychotherapies
Eksistensialis mencari makna eksistensi manusia, dan menekankan pilihan dan individualitas (sebagai lawan dari gagasan bahwa perilaku kita ditentukan dalam beberapa cara mekanistik). Martin Heidegger (1889-1976) biasanya disebut sebagai tokoh filsafat eksistensial modern. Dalam pandangan Heidegger, eksistensi manusia adalah proses, terus berkembang untuk setiap individu. Tidak statis, tapi selalu menjadi sesuatu yang berbeda (Hergenhahn, 1992). Unsur-unsur filsafat eksistensial terlihat dalam bentuk psikoterapi yang dikembangkan oleh Ludrvig Binswanger dan lain-lain
Psikoterapis eksistensial fokus pada tema penting dari kehidupan dan masalah klien, tetapi penekanannya adalah pada kualitas hubungan terapeutik itu sendiri sebagai agen penting dari perubahan. Tugas psikoterapi eksistensial adalah menantang klien untuk memeriksa kehidupan mereka dan mempertimbangkan bagaimana kebebasan mereka terganggu. Yang membantu mereka untuk menghilangkan hambatan, meningkatkan rasa pilihan mereka, dan mengerahkan keinginan mereka.
Psikoterapi eksistensial berusaha untuk memahami makna yang unik dari sudut pandang pengalaman klien yang subjektif dari dalam diri individu atau dunia saat fenomenologisnya. Hubungan kolaboratif antara klien dan terapis adalah penyembuhan dalam dirinya sendiri, dan tidak bergantung konseptual pada “repair model” (Walsh & McElwain.2002, p.272).
Pendekatan eksistensial bukanlah bentuk yang paling banyak dipraktekkan psikoterapi, namun para praktisi melihatnya sebagai kontras yang menyegarkan untuk terapi mekanistik lebih bekerja keras dalam mempromosikannya, mengutip dukungan eksperimental berkembang di beberapa daerah (Cain & Seeman, 2002). Hal ini juga penting dalam mengatur adegan untuk terapi humanistik yang lebih populer, terutama Carl Rogers berpusat pada terapi klien.

KONSEP-KONSEP UTAMA :
1.      Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin besar kesadaran dirinya, maka semakin besar pula kebebasannya untuk memilih altrnatif-alternatif. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai dengan tanggung jawab. Manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.
2.      Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan
Kesadaran akan kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (Nonbeing)
3.      Penciptaan Makna
Manusia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian. Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna. Manusia juga berusaha untuk mengaktualisasikan diri, yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Apabila gagal mengaktualisasikan dirinya, maka ia bisa menjadi sakit.
TUJUAN :
·   Bugental (1965) menyebutkan bahwa keotentikan sebagai urusan utama psikoterapi dan nilai eksistensial pokok.
Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik :
1.      Menyadari sepenuhnya keadaan sekarang
2.      Memilih bagaimana hidup pada saat sekarang
3.      Memikul tanggung jawab untuk memilih.
·   Klien yang neurotic adalah orang yang kehilangan rasa ada, dan tujuan terapi adalah membantunya agar ia memperoleh atau menemukan kembali kemanusiaannya yang hilang.
Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah :
1.      meluaskan kesadaran diri klien
2.      meningkatkan kesanggupan pilihannya
3.      menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.

FUNGSI DAN PERAN TERAPIS
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikoterapi Humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
·         Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
·         Menyadari peran dan tanggung jawab terapis
·         Mengakui sifat timbale balik dari hubungan terapeutik.
·         Berorientasi pada pertumbuhan
·         Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
·         Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
·         Memandang terapis sebagai model, bisa secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
·         Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandagan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
·         Bekerja kea rah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

CLIENT CENTERED THERAPY
Carl R. Rogers mengembangkan terapi client-centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutkannya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Client-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggarisbawahi tindakan mengalami klien berikutnya dunia subjektif dan fenomenalnya.
Terapis berfungsi terutarna sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupankesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan client-centered manaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Client Centered Theory sering pula dikenal sebagai teori nondirektif dimana tokoh utamanya adalah Carl Rogers. Rogers adalah seorang empirisme yang mendasarkan teori-teorinya pada data mentah, ia percaya pentingnya pengamatan subyektif, ia percaya bahwa pemikiran yang teliti dan validasi penelitian diperlukan untuk menolak kecurangan diri (self-deception).
Rogers membangun teorinya ini berdasarkan penelitian dan observasi langsung terhadap peristiwa-peristiwa nyata, dimana pada akhirnya. ia memandang bahwa manusia pada hakekatnya adalah baik.
Oleh karena itu konseling client-centered berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat keputusan-keputusan, sebab klien merupakan orang yang paling tahu tentang dirinya, dan pantas menemukan tingkah laku yang pantas bagi dirinya.
Pendekatan client centered merupakan corak yang dominan yang digunakan dalam. pendidikan konselor. Salah satu alasannya adalah, terapi client centered memiliki sifat keamanan. Terapi client centered menitik beratkan mendengar aktif, memberikan resfek kepada klien, memperhitungkan kerangka acuan intemal klien, dan menjalin kebersamaan dengan klien yang merupakan kebalikan dari menghadapi klien dengan penafsiran-penafsiran. Para terapis client centered secara khas merefleksikan isi dan perasaan-perasaan, menjelaskan pesan-pesan, membantu para.
PROSES KONSELING
fokus utamanya menekankan pengalaman yang dirasakan oleh klien. Pada awal proses konseling tidak difokuskan pada masalah, tujuan dan prilaku.
TUJUAN
Tujuan dasar terapi client centered adalah
·         Meningkatkan harga diri
·         Memperluas keterbukaan terhadap pengalaman hidup
Beberapa kritik lain terhadap client centered:
·         Terlalu menekankan pada aspek afektif, emosional, perasaan sebagai penentu prilaku, tetapi melupakan faktor ineraktif, kognitif dan rasional
·         Penggunaan informasi untuk membantu klien, tidak sesuai dengan teori
·         Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas, umum dan longgar sehingga sulit untuk menilai setiap individu
·         Tujuan ditetapkan oleh klien, tetapi tujuan konseling kadang-kadang dibuat tergantung lokasi konselor dan klien
·         Meskipun terbukti bahwa konseling client centered diakui efektif , tapi bukti-bukti tidak cukup sistematis dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggung j awabnya
·         Sulit bagi konselor untuk benar-benar bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal
Namun dernikian dalam sumber lain dikatakan bahwa konseling client centered elah memberikan kontribusi dalam hal:
·         Pernusatan pada klien dan bukan pada konselor dalam konseling
·         Idenifikasi dan penekanan hubungan konseling sebagai wahana utama, dalam mengubah kepribadian
·         Lebih menekankan pada sikap konselor daripada teknik
·         Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif
·         Penanganan emosi, perasaan dan afektif dalam konseling.
CIRI-CIRI CLIENT CENTERED THERAPY
Rogers (1974, h. 213-214) menguraikan ciri-ciri yang membedakan pendekatan client-centered dari pendekatan-pendekatan lain :
·         Pendekatan client centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Klien sebagai sebagai orang yang paling mengetahui dirinya sendiri, adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang lebih panas bagi dirinya.
·         Pendekatan client centered menekankan dunia fenomenal klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami klien. Dengan simpati yang cermat dan dengan usaba untuk memahami kerangka acuan internal klien, terapis memberikan perhatian terutama pada persepsi diri klien dan persepsinya terhadap dunia.
TEKNIK TERAPI
a.       Penekanan awal pada refleksi perasaan the person centered yang pada dasarnya adalah pernyataan ulang yang sedrhana dari apa yang dikatakan klien.
b.      Evolusi metode person centered. Filosofi the person centered di dasarkan pada asumsi bahwa klien memiliki akal untu bergerak positif tanpa bantuan konselor.
c.       Peran penilaian. Penilaian sering di pandang sebagai prasyarat untuk proses tritmen. Beberapa kesehatan mental menggunakan berbagai procedure penilaian termasuk diagnostic, identifikasi kekuatan klien dan kewajiban pengerjaan test.
d.      Penerapan filosofi dari pendekatan the person centered diterapkan untuk bekerja individu, kelompok maupun keluarga. Pendekatan the person cetered juga telah terbukti sebagai terapi yang layaK dan lebih berorientasi, filosofi dasar dari the person centered memiliki penerapan untuk pendidikan SD hinga lulus.
e.       Aplikasi untuk krisis intervensi. Pendekatan the person centered terutama berlaku dalam krisis intervensi seperti kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit, peristiwa bencana dan kehilangan orang yang dicintai. Dalam krisis intervensi seseorang yang mengalaminya butuh dorongan motivasi dari orang-orang sekitarnya, kepedulian dan berusaha untuk menempatkan posisinya.
f.       Aplikasi untuk kelompok konseling. Pendekatan the person centered menekankan peran unik dari kelompok konselor sebagai fasilitator dan bukan pemimpin.

daftar pustaka :

Prabowo, Hendro. Psikologi Umum Seri Diktat Kuliah. Jakarta: Universitas
        Gunadarma.
Pervin, Lawrence A. 2004. Psikologi Kepribadian Teori dan Penelitian Edisi 
         Kesembilan. Jakarta: Prenada Media Group.
Suryabrata, Sumadi. 2003. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Raja Grafinfo  
Persada.


Logotherapy

Logotherapy dikembangkan oleh ahli saraf dan psikiater Viktor Frankl. Viktor E. Frankl dilahirkan di Wina, Austria pada tanggal 26 Maret 1905. Logoterapi dilandasi keyakinan bahwa itu adalah berjuang untuk menemukan makna dalam kehidupan seseorang yang utama, yang paling kuat memotivasi dan pendorong dalam manusia.  

PRINSIP-PRINSIP DASAR
Gagasan Logotherapy diciptakan dengan Yunani kata logos (“yang berarti”). Konsep Frankl ini didasarkan pada premis bahwa kekuatan motivasi utama dari seorang individu adalah untuk menemukan makna hidup. 
Daftar berikut merupakan prinsip prinsip dasar logoterapi:
·                     Kehidupan memiliki makna dalam keadaan apapun, bahkan yang paling menyedihkan.
·                     Motivasi utama kami untuk hidup adalah keinginan kita untuk menemukan makna hidup.
·                     Kami memiliki kebebasan untuk menemukan makna dalam apa yang kita lakukan, dan apa yang kita alami, atau setidaknya dalam berdiri kita ambil ketika dihadapkan dengan situasi penderitaan berubah. 

Jiwa manusia disebut di beberapa asumsi logoterapi, tetapi penggunaan istilah roh tidak “spiritual” atau “religius”. Dalam pandangan Frankl, roh adalah kehendak manusia. Penekanannya, karena itu, adalah pada pencarian makna, yang tidak selalu mencari Tuhan atau makhluk supernatural lainnya. Frankl juga mencatat hambatan untuk pencarian manusia untuk makna dalam kehidupan. Dia memperingatkan terhadap  “kemakmuran, hedonisme , [dan] materialisme … ” dalam pencarian makna. Tujuan hidup dan makna hidup konstruksi muncul dalam tulisan-tulisan logoterapi Frankl dengan hubungan dengan vakum eksistensial dan kemauan untuk makna, serta orang lain yang telah berteori tentang dan didefinisikan psikologis yang positif berfungsi. Frankl mengamati bahwa mungkin secara psikologis merusak ketika pencarian seseorang akan makna diblokir. 
Tujuan hidup yang positif dan makna dikaitkan dengan keyakinan yang kuat agama, keanggotaan dalam kelompok, dedikasi untuk penyebab, nilai-nilai kehidupan, dan tujuan yang jelas. Perkembangan dewasa dan kematangan teori mencakup tujuan dalam konsep hidup. Kematangan menekankan pemahaman yang jelas tentang tujuan hidup, directedness, dan intensionalitas yang berkontribusi pada perasaan bahwa hidup ini bermakna. 
Ide Frankl yang dioperasionalkan oleh Crumbaugh dan Tujuan Maholick dalam hidup (PIL) tes, yang mengukur makna individu dan tujuan dalam hidup. Dengan tes, peneliti menemukan bahwa makna hidup dimediasi hubungan antara religiusitas dan kesejahteraan; stres tak terkendali dan penggunaan narkoba, depresi dan self-pengurangan. Crumbaugh menemukan bahwa Mencari dari niskala Uji Gol (LAGU) adalah ukuran komplementer dari PIL. Sementara PIL mengukur keberadaan makna, LAGU mengukur orientasi terhadap makna. Sebuah skor rendah dalam PIL namun skor tinggi dalam LAGU, akan memprediksi hasil yang lebih baik dalam penerapan Logotherapy.  
MENEMUKAN MAKNA
Menurut Frankl, “Kita dapat menemukan makna dalam hidup dalam tiga cara yang berbeda:
(1) dengan menciptakan pekerjaan atau melakukan perbuatan,
(2) dengan mengalami sesuatu atau menghadapi seseorang, dan
 (3) oleh sikap kita ambil menuju dihindari penderitaan “dan bahwa” segala sesuatu yang dapat diambil dari seorang pria tapi satu hal:. yang terakhir dari kebebasan manusia – untuk memilih sikap dalam setiap himpunan keadaan ” Pada makna penderitaan, Frankl memberikan contoh berikut:
“Sekali, seorang dokter umum tua berkonsultasi dengan saya karena depresi yang parah. Dia tidak bisa mengatasi kehilangan istrinya yang telah meninggal dua tahun sebelum dan yang ia cintai di atas segalanya. Sekarang bagaimana aku bisa membantunya? Apa yang harus kukatakan ? dia aku menahan diri untuk menceritakan apa-apa, tapi malah dihadapkan dia dengan pertanyaan, “Apa yang akan terjadi, Dokter, jika Anda sudah mati lebih dulu, dan istri Anda akan harus bertahan hidup Anda:?” “Oh,” katanya, “untuknya ini akan menjadi mengerikan, bagaimana dia akan menderita!” Mendengar itu saya menjawab, “Anda lihat, Dokter, penderitaan tersebut telah diselamatkan, dan itu adalah Anda yang telah terhindar nya penderitaan ini, tetapi sekarang, Anda memiliki untuk membayar untuk itu dengan selamat dan berkabung nya. “Dia mengatakan tidak ada kata tapi menjabat tangan saya dan dengan tenang meninggalkan kantor. 
Frankl menekankan bahwa mewujudkan nilai penderitaan bermakna hanya ketika dua kemungkinan kreatif tidak tersedia (misalnya, di kamp konsentrasi) dan hanya jika penderitaan tersebut tidak bisa dihindari – dia tidak mengusulkan bahwa orang menderita tidak perlu. 

FILOSOFI DASAR LOGOTERAPI
Frankl menggambarkan implikasi metaclinical dari logoterapi dalam bukunya The Will Makna: Yayasan dan Aplikasi Logotherapy. Dia percaya bahwa tidak ada psikoterapi terlepas dari teori manusia. Sebagai seorang psikolog eksistensial, ia inheren tidak setuju dengan “model mesin” atau “model tikus”, karena merusak kualitas manusia manusia. Sebagai seorang ahli saraf dan psikiater, Frankl mengembangkan pandangan unik determinisme untuk hidup berdampingan dengan tiga pilar dasar logoterapi (kebebasan kehendak). Meskipun Frankl mengakui bahwa manusia tidak pernah bisa bebas dari setiap kondisi, seperti, biologis, sosiologis, psikologis atau penentu, berdasarkan pengalamannya dalam Holocaust, ia percaya bahwa manusia adalah “mampu melawan dan menantang bahkan kondisi terburuk”. Dalam melakukan seperti itu, manusia dapat melepaskan diri dari situasi, dirinya, memilih sikap tentang dirinya sendiri, menentukan determinan sendiri, sehingga membentuk karakter sendiri dan menjadi bertanggung jawab untuk dirinya sendiri.

PANDANGAN LOGOTHERAPEUTIC DAN PENGOBATAN
·                     Mengatasi kecemasan
Dengan mengenali tujuan keadaan kita, seseorang dapat menguasai kecemasan. Anekdot tentang penggunaan ini logoterapi diberikan oleh New York Times penulis Tim Sanders, yang menjelaskan bagaimana dia menggunakan konsep untuk meringankan stres fellow travellers maskapai dengan meminta mereka tujuan perjalanan mereka. Ketika ia melakukan hal ini, tidak peduli seberapa menyedihkan mereka, perubahan sikap seluruh mereka, dan mereka tetap bahagia sepanjang penerbangan.  Secara keseluruhan, Frankl percaya bahwa individu cemas tidak mengerti bahwa kecemasan adalah hasil dari berurusan dengan rasa “tanggung jawab terpenuhi” dan akhirnya kurangnya makna. 
Frankl menyebutkan dua patogen neurotik: hiper-niat, niat yang dipaksa menuju suatu tujuan yang membuat akhir yang tak terjangkau, dan hiper-refleksi, perhatian berlebihan terhadap diri sendiri yang menghambat upaya untuk menghindari neurosis yang orang berpikir diri cenderung. Frankl mengidentifikasi kecemasan antisipatif , takut hasil yang diberikan yang membuat hasil yang lebih mungkin. Untuk meringankan kecemasan antisipatif dan mengobati yang dihasilkan neurosis, logoterapi menawarkan niat paradoks , dimana pasien bermaksud untuk melakukan kebalikan dari tujuan hiper-dimaksudnya.
Seseorang, kemudian, yang takut (yaitu mengalami kecemasan antisipatif atas) tidak mendapatkan tidur malam yang baik mungkin mencoba terlalu keras (yaitu, hiper-berniat) untuk tertidur, dan ini akan menghambat kemampuannya untuk melakukannya. Sebuah logotherapist akan merekomendasikan, bahwa ia pergi ke tempat tidur dan sengaja mencoba untuk tidak jatuh tertidur. Ini akan meringankan kecemasan antisipatif yang membuatnya terjaga di tempat pertama, sehingga memungkinkan dia untuk tertidur dalam jumlah yang diterima waktu. 
·                     Depresi
Viktor Frankl percaya depresi terjadi pada psikologis, fisiologis, dan spiritual tingkat.  Pada tingkat psikologis, ia percaya bahwa perasaan tidak mampu melakukan tugas berasal dari luar kemampuan kita. Pada tingkat fisiologis, ia mengakui “rendah vital”, yang didefinisikan sebagai “berkurangnya energi fisik”. Akhirnya, Frankl percaya bahwa pada tingkat spiritual, orang depresi menghadapi ketegangan antara yang benar-benar dia dalam kaitannya apa yang seharusnya dia. Frankl menyebut hal ini sebagai menganga jurang.  Akhirnya Frankl menunjukkan bahwa jika tujuan tampaknya tidak terjangkau, seseorang kehilangan rasa masa depan dan dengan demikian berarti mengakibatkan depresi.  Dengan demikian logoterapi bertujuan “untuk mengubah Sikap pasien terhadap penyakitnya serta arah hidupnya sebagai tugas “.
·                     Obsesif-kompulsif
Frankl percaya bahwa mereka yang menderita gangguan obsesif-kompulsif tidak memiliki rasa penyelesaian bahwa kebanyakan orang lain miliki.  Alih-alih memerangi kecenderungan untuk mengulangi pikiran atau tindakan, atau berfokus pada perubahan gejala individu dari penyakit, terapis harus fokus pada “transform [ing] neurotik sikap terhadap neurosis nya”. Oleh karena itu, penting untuk mengenali bahwa pasien “tidak bertanggung jawab atas ide obsesif nya”, tapi “dia pasti bertanggung jawab atas sikapnya terhadap ide-ide “. Frankl menyarankan bahwa penting bagi pasien untuk mengenali kecenderungan ke arah kesempurnaan sebagai takdir, dan karena itu, harus belajar untuk menerima beberapa derajat ketidakpastian. Pada akhirnya, setelah premis logoterapi, pasien akhirnya harus mengabaikan pikiran obsesif dan menemukan makna dalam hidupnya meskipun pikiran seperti itu.
·                     Skizofrenia
Meskipun logoterapi tidak dimaksudkan untuk menangani gangguan yang parah, Frankl percaya logoterapi yang bisa menguntungkan bahkan mereka yang menderita skizofrenia.  Dia mengakui akar skizofrenia pada disfungsi fisiologis.  Pada disfungsi ini, skizofrenia yang “mengalami dirinya sebagai obyek “bukan sebagai subjek.  208 Frankl menyarankan bahwa skizofrenia bisa dibantu dengan logoterapi dengan terlebih dahulu diajarkan untuk mengabaikan suara dan untuk mengakhiri persisten pengamatan-diri.  Kemudian, selama periode yang sama ini, skizofrenia harus dipimpin ke arah kegiatan yang berarti, sebagai “bahkan untuk skizofrenia tetap ada bahwa residu kebebasan terhadap nasib dan arah penyakit dimana manusia selalu memiliki, tidak peduli seberapa sakit ia mungkin, dalam segala situasi dan pada setiap saat dalam kehidupan, untuk . yang terakhir “
·                     Pasien Terminally-sakit
Pada tahun 1977, Terry Zuehlke dan John Watkins melakukan studi menganalisis efektivitas logoterapi dalam merawat pasien terminally-sakit. Desain studi yang digunakan 20 laki-laki Veteran Administrasi relawan yang secara acak ditugaskan untuk salah satu dari dua kemungkinan pengobatan – (1) kelompok yang menerima 8-45 menit sesi selama 2 minggu dan (2) kelompok digunakan sebagai kontrol yang menerima pengobatan tertunda. Setiap kelompok diuji pada 5 skala – yang MMPI K Skala , MMPI L Skala, Death Anxiety Skala, Brief Psychiatric Rating Scale, dan Tujuan Hidup Test. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan keseluruhan antara kontrol dan kelompok perlakuan. Sementara analisis univariat menunjukkan bahwa ada perbedaan kelompok yang signifikan dalam 3/5 dari tindakan tergantung. Hasil ini mengkonfirmasi gagasan bahwa pasien terminally-sakit bisa mendapatkan keuntungan dari logoterapi dalam menghadapi kematian.
Ada tiga asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:
1.                  Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dankepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berhargadan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikantujuan hidup.
2.                  Setiap manusia memiliki kebebasan yang hampir tidak terbatas untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna atas setiapperistiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif atupun makna yangnegatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna
3.                  Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap peristiwatragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungansekitar. Contoh yang jelas adalah seperti kisah Imam Ali diatas, ia jelas-jelasmendapatkan musibah yang tragis, tapi ia mampu memaknai apa yang terjadi secarapositif sehingga walaupun dalam keadaan yang seperti itu Imam tetap bahagia.

AJARAN LOGOTERAPI
Ketiga asas itu tercakup dalam ajaran logoterapi mengenai eksistensi manusia dan maknahidup sebagai berikut:
1.                  Dalam setiap keadaan, termasuk dalam penderitaan sekalipun, kehidupan ini selalu mempunyai makna.
2.                  Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.
3.                  Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi untuk memilih, menentukan dan memenuhi makna dan tujuan hidupnya.
4.                  Hidup bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga nilai kehidupan, yaitu nilai-nilai kreatif (creative values), nilai-nilai penghayatan (eksperiental values) dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values).

TUJUAN LOGOTERAPI
Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:
1.                  memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada padasetiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
2.                  menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dandiabaikan bahkan terlupakan;
3.                  memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mamputegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna
PANDANGAN LOGOTERAPI TERHADAP MANUSIA
1.                  Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan danspiritual Unitas bio-psiko-spiritual.
2.                  Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengandimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimens ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Franklmenggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.
3.                  Dengan adanya dimensi noetic ini manusia mampu melakukan self-detachment, yaknidengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilaidirinya sendiri.
4.                  Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksidengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu mengolahlingkungan fisik di sekitarnya

Daftar pustaka :
Prabowo, Hendro. Psikologi Umum Seri Diktat Kuliah. Jakarta: Universitas
        Gunadarma.
Pervin, Lawrence A. 2004. Psikologi Kepribadian Teori dan Penelitian Edisi 
         Kesembilan. Jakarta: Prenada Media Group.
Suryabrata, Sumadi. 2003. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT Raja Grafinfo  
Persada.


Tuesday, 15 March 2016

TUGAS 1 PSIKOTERAPI

1.      Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi dilihat secara etimologis mempunyai arti "psyche" yaitu  jiwa dan "therapy" yang berarti "merawat, mengobati, menyembuhkan" sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya yaitu: "perawatan terhadap aspek kejiwaan“
Menurut Wolberg (1954), psikoterapi adalah suatu bentuk dari perawatan (treatment) terhadap masalah-masalah yang dasarnya emosi, dimana seseorang yang terlatih dengan seksama membentuk hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah atau mencegah munculnya gejala dan menjadi perantara untuk menghilangkan pola-pola perilaku yang terhambat.
Corsini (1989) Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress).

2.      Tujuan Psikoterapi dan Contohnya
a.       Perawatan akut (intervensi krisis dan stabilisasi).
b.      Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat).
c.       Pemeliharaan (pencegahan keadaan memburuk dijangka panjang).
d.      Restrukturisasi (meningkatkan perubahan yang terus menerus kepada pasien).

3.      Perbedaan Psikoterapi dengan Konseling
a.       Pendekatan pemberian bantuan
-          Psikoterapi: Pemberian pemahaman secara rekonstruksi (insght recontructive)
-          Konseling: Pemberian dorongan (supportive) dan pemberian pemahaman secara reedukatif (insight-reedukative)
b.      Intensitas masalah
-          Psikoterapi:
§  Problem berat: konflik yang serius, gangguan perasaan.
§  Individu kurang normal.
§  Konflik interpersonal yang mendalam.
§  Orang mengalami tekanan emosional kronis
-          Konseling:
§  Problem ringan: ketidakmatangan, ketidaksatabilan emosioanl dll.
§  Individu normal.
§  Peran dalam kehidupan.
§  Kecemasan normal dan krisis situasional dalam sehari-hari
c.       Cara penanganan
-          Psikoterapi:
§  Berorientasi pada terapi, menggunakan teknik yang spesifik dengan psikoanalisis/ behavioristik dan pena-nganan medis.
§  Psikiater
-          Konseling:
§  Lebih berorientasi pada klien, mementingkan hubungan dengan pende-katan humanistik.
§  Psikolog

4.      Bentuk Terapi dan Contohnya
Bentuk utama Terapi menurut Wolberg (1967), yaitu:
a.       Supportive Therapy
Terapi yang bertujuan untuk memperkuat benteng pertahanan diri, memperluas mekanisme pengarahan dan pengendalian emosi kepribadian serta mengembalikan pada penyesuaian diri yang seimbang.
Cara atau pendekatan: bimbingan, katarsis emosional, hipnosis, manipulasi lingkungan, terapi kelompok, dll.
Contoh: Terapi seperti bimbingan, terapi lingkungan, terapi okupasi, yang melibatkan eksternalisasi kepentingan, terapi seni kreatif seperti musik dan drama dapat diberikan sebagai.
b.      Reeducative Therapy
Terapi yang bertujuan untuk mewujudkan penyesuaian kembali, perubahan atau modifikasi sasaran atau tujuan hidup dan menghidupkan potensi kreatif.
Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.
Contoh: Perilaku, psikoterapi berbasis berbasis dan konsultasi kognitif, perkawinan dan terapi keluarga dan psikodrama.
c.       Reconstructive Therapy
Terapi yang bertujuan untuk menimbulkan pemahaman terhadap konflik-konflik yang tidak disadari agar terjadi perubahan struktur karakter dan mengembangkan potensi penyesuaian yang baru.
Cara atau pendekatan: Psikoanalisis klasik dan Neo-Freudian (Adler, Jung, Sullivan, Horney, Reich, Fromm, Kohut, dll.), psikoterapi berorientasi psikoanalitik atau dinamik.
Contoh: Psikoanalisis Freudian klasik, analisis Ego, hubungan objek terapi, psikoterapi berorientasi psikoanalitik, analisis transaksional, analisis eksistensial. Pendekatan teoritis dan metode aplikasi penyedia diambil sebagai dasar dalam jenis kategorisasi. Psikoterapi dapat dikategorikan dalam hal pasien mereka digunakan dan teknik aplikasi sebagai individu, kelompok berbasis, pasangan, berbasis keluarga, keluarga, terapi perkawinan, psikodrama, terapi permainan.

Saturday, 23 January 2016

Sikap Pekerja dan Kepuasan Kerja - Tugas Psikologi Manajemen Minggu 14

HUBUNGAN PELAKSANAAN KERJA DAN KEPUASAN KERJA

Hubungan antara pelaksanaan kerja dan kepuasan kerja sudah pasti menjadi hal yang sangat penting. Cara seorang karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya, sangat dipengaruhi oleh lingkungan kerja dan hal tersebut akan memengaruhi kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan tersebut. Selain dipengaruhi oleh faktor luar, faktor dari dalam diri seorang karyawan juga sangat berpengaruh. Motivasi yang dimiliki oleh seorang karyawan dalam mengerjakan pekerjaannya haruslah tinggi. Sehingga karyawan tersebut dapat mempertahankan produktivitasnya dan dapat bekerja kepada sebuah perusahaan dalam waktu yang lama.

Kepuasan kerja juga penting untuk aktualisasi, karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan psikologis, dan pada gilirannya akan menjadi frustasi. Karyawan yang seperti ini akan sering melamun, mempunyai semangat kerja yang rendah, cepat lelah dan bosan, emosi tidak stabil, sering absen dan melakukan kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Sedangkan karyawan yang mendapatkan kepuasan kerja biasanya mempunyai catatan kehadiran dan perputaran kerja yang lebih baik, kurang aktif dalam kegiatan serikat karyawan, dan kadang-kadang berprestasi bekerja lebih baik daripada karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja. Oleh karena itu kepuasan kerja mempunyai arti penting baik bagi karyawan maupun perusahaan, terutama karena menciptakan keadaan positif di dalam lingkungan kerja perusahaan.

MENCEGAH DAN MENGATASI KETIDAKPUASAN KERJA

Ketidakpuasan kerja akan menyebabkan motivasi kerja rendah, pelibatan kerja menurun, komitmen keorganisasian menurun, kemangkiran meningkat, menimbulkan stress, dan keluar dari perusahaan. Tiap individu sangat berkepentingan agar mereka merasa betah bekerja. Karena itu mengatasi ketidakpuasan kerja seharusnya dilihat dari kepentingan individu dan organisasi sekaligus serta terintegrasi dengan strategi bisnis. Selain itu setiap karyawan harus diakui keberadaannya yang dicirikan oleh pemberian penghargaan dalam bentuk keterbukaan dalam menyatakan pendapat, tambahan kompensasi, dan terbukanya peluang karir. Di sisi lain sepatutnya pula tiap individu karyawan harus pula bisa mengatasi ketidakpuasan kerja utamanya yang berkait dengan potensi dan perilaku kerjanya. Dalam hal ini pendekatannya pun seharusnya spesifik sesuai dengan latar belakang mengapa ketidakpuasan kerja terjadi. Dalam artikel ini hanya diuraikan pendekatan umum saja.
Upaya mengatasi ketidakpuasan kerja secara umum oleh para individu karyawan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
mengidentifikasi apa saja, kapan dan dimana ketidakpuasan kerja itu terjadi; bisa saja dalam waktu-waktu dan lokasi kerja tertentu dapat menyebabkan timbulnya ketidakpuasan kerja,
mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya ketidakpuasan kerja dan apa akibatnya terhadap kondisi fisik, psikis, mutu proses dan kinerja,
kalau faktor penyebabnya lebih pada diri sendiri maka yang harus dilakukan adalah;
1) mengkondisikan dirinya untuk memandang bekerja itu adalah ibadah,  aktualisasi diri, dan menyenangi pekerjaannya;
2) memelajari dan mengambil teladan yang baik dari mitra kerjanya yang mampu mengatasi ketidakpusan kerja;
3) menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja;
4) meningkatkan relasi sosial horisontal dan vertikal di tempat kerjanya;
5) meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
6) dan mendiskusikan kondisi dan masalah ketidakpuasan dengan pihak manajer dan kalau memungkinkan dengan manajemen puncak.


SUMBER


Gibson, J.L., Ivancevich, J.M., Donnelly, Jr., J.H., 1990, Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses (Terj.).Jakarta: Erlangga.

Handoko, T. Hani. 2001. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogjakarta: BPFE .

Saturday, 16 January 2016

Sikap Pekerja dan Kepuasan Kerja - Tugas Psikologi Manajemen Minggu 13

A. TEORI-TEORI KEPUASAN KERJA

Menurut Wexley dan Yukl (1977) teori-teori tentang kepuasan kerja ada tiga macam yang lazim dikenal yaitu:

1. Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory)

Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi harapannya. Kepuasan akan dirasakan oleh individu tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan besar.

2. Teori Keadilan (Equity Theory)

Seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu situasi. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi diperoleh seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor, maupunditempat lain.

3. Teori Dua – Faktor (Two Factor Theory)

Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Menurut teori ini, karakteristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yang satu dinamakan Dissatisfier atau hygiene factors dan yang lain dinamakan satisfier atau motivators.
Satisfier atau motivators adalah faktor-faktor atau situasi yang dibuktikannya sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari prestasi, pengakuan, wewenang, tanggungjawab dan promosi. Dikatakan tidak adanya kondisi-kondisi ini bukan berarti membuktikan kondisi sangat tidak puas, tetapi kalau ada, akan membentuk motivasi kuat yang menghasilkan prestasi kerja yang baik. Oleh sebab itu faktor ini disebut sebagai pemuas. Hygiene factors adalah faktor-faktor yang terbukti menjadi sumber kepuasan, terdiri dari gaji, insentif, pengawasan, hubungan pribadi, kondisi kerja dan status.

B. DETERMINAN SIKAP KERJA

Sikap kerja dapat dijadikan indikator apakah suatu pekerjaan berjalan lancar atau tidak. Jika sikap kerja dilaksanakan dengan baik, pekerjaan akan berjalan lancar. Jika tidak berarti akan mengalami kesulitan. Tetapi, bukan berarti adanya kesulitan karena tidak dipatuhinya sikap kerja, melainkan ada masalah lain lagi dalam hubungan antara karyawan yang akibatnya sikap kerjanya diabaikan.

1. Menurut para tokoh :

Gibson (1997), menjelaskan sikap sebagai perasaan positif atau negatif atau keadaan mental yang selalu disiapkan, dipelajari dan diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh khusus pada respon seseorang terhadap orang, obyek ataupun keadaan. Sikap lebih merupakan determinan perilaku sebab, sikap berkaitan dengan persepsi, kepribadian dan motivasi.
Sada (2000), adalah tindakan yang akan diambil karyawan dan segala sesuatu yang harus dilakukan karyawan tersebut yang hasilnya sebanding dengan usaha yang dilakukan.

2. Sikap yang positif :

Kemauan untuk bekerja sama. Bekerja sama dengan orang-orang dalam suatu kelompok akan memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh orang-orang secara individual.
Rasa memiliki. Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya tjuan perusahaan.
Hubungan antar pribadi. Karyawan yang mempunyai loyalitas karyawan tinggi mereka akan mempunyai sikap fleksibel kea rah tete hubungan antara pribadi. Hubungan antara pribadi ini meliputi : hubungan social diantara karyawan. Hubungan yang harmonis antara atasan dan karyawan, situasi kerja dan sugesti dari teman sekerja.
Suka terhadap pekerjaan. Perusahaan harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya tiap hari dating untu bekerja sama sebagai manusia seutuhnya dalam hal melakukan pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati sebagai indikatornya bisa dilihat dari : kesanggupan karyawan dalam bekerja, karyawan tidak kpernah menuntut apa yang diterimanya di luar gaji pokok.

3. Faktor-faktor Sikap Kerja

Menurut Blum and Naylor (Aniek, 2005) terdapat beberapa factor yang mempengaruhi sikap kerja, diantaranya:


Kondisi Kerja → Situasi kerja yang meliputi lingkungan fisik ataupun lingkungan social yang menjamin akan mempengaruhi kenyamanan dalam bekerja. Karena dengan adanya rasa nyaman akan mempengaruhi semangat dan kualitas karyawan.
Pengawasan Atasan → Seorang pimpinan yang melakukan pengawasan terhadap karyawan dengan baik dan penuh perhatian pada umumnya berpengaruh terhadap sikap dan semangat kerja karyawan.
Kerja sama dari teman sekerja → Adanya teman sekerja yang dapat berkerjasama akan sangat mendukung kualitas dan prestasi dalam menyelesaikan pekerjaan.
Keamanan → Adanya rasa aman yang tercipta serta lingkungan yang terjaga akan menjamin dan menambah ketenangan dalam pekerjaan.
Kesempatan untuk maju → Adanya jaminan masa depan yang lebih baik dalam hal karier baik promosi jabatan dan jaminan hari tua.
Fasilitas kerja → Tersedianya fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan karyawan dalam pekerjaannya.
Upah atau Gaji → Rasa senang terhadap imbalan yang diberikan perusahaan baik yang berupa gaji pokok, tunjangan dan sebagainya yang dapat mempengaruhi sikap karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya.


C. PENGUKURAN SIKAP KERJA

Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal. Ketika seorang merasakan kepuasan dalam bekerja tentunya ia akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya. Dengan demikian produktivitas dan hasil kerja karyawan akan meningkat secara optimal.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan pada dasarnya secara praktis dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri dan dibawa oleh setiap karyawan sejak mulai bekerja di tempat pekerjaannya, Sebagai contoh, karyawan yang sudah lama bekerja memiliki kecenderungan lebih puas dibandingkan dengan karyawan yang belum lama bekerja (Doering et al., 1983) Faktor eksentrinsik menyangkut hal-hal yang berasal dari luar diri karyawan, antara lain kondisi fisik lingkungan kerja, interaksinya dengan karyawan lain, sistem penggajian dan sebagainya.

Secara teoritis, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja sangat banyak jumlahnya, seperti gayakepemimpinan, produktivitas kerja, perilaku, locus of control , pemenuhan harapan penggajian dan efektivitas kerja.

1. Salah satu cara untuk menentukan apakah pekerja puas dengan pekerjaannya atau tidak, ialah dengan membandingkan pekerjaan mereka dengan beberapa pekerjaan ideal tertentu (teori kesenjangan).

2. Faktor-faktor yang biasanya digunakan untuk mengukur kepuasan kerja seorang pegawai diantaranya :

Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang aktual dan sebagai kontrol terhadap pekerjaan
Supervise
Organisasi dan manajemen
Kesempatan untuk maju
Gaji dan keuntungan dalam bidang finansial lainnya seperti adanya insentif
Rekan kerja
Kondisi pekerjaan

3. Menurut Job Descriptive Index (JDI) faktor penyebab kepuasan kerja, pengukuran sikap/kepuasan kerja, diantaranya :

Bekerja pada tempat yang tepat
Pembayaran yang sesuai
Organisasi dan manajemen
Supervisi pada pekerjaan yang tepat
Orang yang berada dalam pekerjaan yang tepat.

SUMBER:

Gibson, J.L., Ivancevich, J.M., Donnelly, Jr., J.H., 1990, Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses (Terj.).Jakarta: Erlangga.

Handoko, T. Hani. 2001. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogjakarta: BPFE .

Friday, 8 January 2016

Job Enrichment - Tugas Softskill Minggu Ke 12

I. PENGERTIAN JOB ENRICHMENT

Job enrichment merupakan suatu pendekatan untuk merancang kembali pekerjaan guna meningkatkan motivasi instrinsik dan meningkatkan kepuasaan kerja. Pekerja diberikan kekuasaan atas pekerjaannya, mereka dapat membuat pekerjaan mereka menjadi lebih terspesialisir dan sederhana.
Dari hal tersebut pekerja dapat mengembangkan kecakapan yang mereka miliki. Selain itu, job enrichment mampu membuat pekerja menjadi termotivasi agar berhasil dalam mencapai kepuasaan kerja. Sebab dalam job enrichment disini pekerja melakukan pekerjaan dengan kemampuan mereka sendiri.
Namun, tidak semua dapat melakukan job enrichment karena untuk dapat melaksanakan job enrichment pekerja diharapkan memiliki tanggung jawab. Bila mereka tidak mampu melaksanakan tanggung jawab ini tentu semua pekerjaan tidak dapat berjalan baik. Misalnya saja dalam tahapan merancang kembali pekerjaan disini dituntut adanya kreativitas dari pekerja. Agar pekerjaan yang dilakukan dapat terlihat menjadi lebih besar, bervariasi, dan kecakapan lebih luas. Dari situ pekerja juga dapat mengoreksi pekerjaannnya sendiri. Karena dalam job enrichment dituntut kemampuan dari para pekerja sehingga mampu memotivasi secara instrinsik, maka kemungkinan absensi dan perpindahan kerja akan berkurang. Adanya motivasi tersebut membuat pekerja ingin melakukan yang terbaik bagi pekerjaannya.

Contoh : Seorang mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di suatu universitas ia juga dapat membantu anak-anak  dibawah jenjang pendidikannya untuk mengajar anak –anak tersebut dengan cara membuka tempat les atau tempat untuk belajar.

II. LANGKAH-LANGKAH DALAM REDESIGN PEKERJAAN JOB ENRICHMENT

A. Menggabungkan beberapa pekerjaan menjadi satu.

1).  Menjadi lebih besar
2).  Lebih bervariasi
3).  Kecakapan lebih luas

B. Memberikan modul kerja untuk setiap pekerja.

C. Memberikan kesempatan pada setiap pekerja untuk dapat bertanggung jawab.

1). Kesempatan mengatur prosedur kerja sendiri

D.Memberikan kesempatan pekerja menghubungi kliennya sendiri secara langsung.

1). Orang – orang yang berhubungan dengan pelaksanaan kerjanya.

E. Menciptakan sarana – sarana umpan balik.

      1). Pekerja dapat memonitor koreksi diri .

III. PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN DALAM JOB ENRICHMENT

Pertimbangan-Pertimbangan Dalam Job Enrichment

Jika pekerjaan terspesialisir dan sederhana dirancang kembali untuk memotivasi secara intrinsik pada pekerja, maka kualitas pelaksanaan kerja pekerja akan meningkat.
Absensi-absensi dan perpindahan kerja akan berkurang.
Dimensi inti yang berkaitan dengan motivasi intrinsik & lapangan kerja ( Hackman dan Oldham ), yaitu:
Keragaman ketrampilan (skill variety)
Banyaknya ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan.Makin banyak ragam ketrampilan yang digunakan, makin kurang membosankan pekerjaan. Misalnya, seorang salesman diminta untuk memikirkan dan menggunakan cara menjual yang berbeda, display (etalase) yang berbeda, cara yang lebih baik untuk melakukan pencatatan penjualan.

Jati diri tugas (task identity)
Tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil kinerja seseorang.Tugas yang dirasakan sebagai bagian dari pekerjaan yang lebih besar dan yang dirasakan tidak merupakan satu kelengkapan tersendiri menimbulkan rasa tidak puas.Misalnya, seorang salesman diminta untuk membuat catatan tentang penjualan dan konsumen, kemudian mempunyai dan mengatur display sendiri.

Tugas yang penting (task significance)
Tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak yang berarti bagi kehidupan orang lain, baik orang tersebut merupakan rekan sekerja dalam suatu perusahaan yang sama maupun orang lain di lingkungan sekitar. Jika tugas dirasakan penting dan berarti oleh tenaga kerja, maka ia cenderung mempunyai kepuasan kerja. Misalnya, sebuah perusahaan alat-alat rumah tangga ingin mengeluarkan produk panci baru. Para karyawan diberikan tugas untuk mencari kriteria seperti apa panci yang sangat dibutuhkan oleh ibu-ibu masa kini. (tugas tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi karyawan karena hasil kerjanya nanti secara langsung akan memberi manfaat kepada pelanggan)

Otonom
Tingkat kebebasan pemegang kerja, yang mempunyai pengertian ketidaktergantungan dan keleluasaan yang diperlukan untuk menjadwalkan pekerjaan dan memutuskan prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikannya. Pekerjaan yang memberi kebebasan, ketidaktergantungan dan peluang mengambil keputusan akan lebih cepat menimbulkan kepuasan kerja. Misalnya, seorang manager mempercayai salah satu karyawan untuk memperebutkan tender dari klien. Karyawan tersebut menggunakan ide dan caranya sendiri untuk menarik perhatian klien .Karyawan diberi kebebasan untuk mengatur sendiri waktu kerja dan waktu istirahat.

Umpan balik (feed back)
Memberikan informasi kepada para pekerja tentang hasil pekerjaan sehingga para pekerja dapat segera memperbaiki kualitas dan kinerja pekerjaan.Misalnya, dalam menjual produk salesman didorong untuk mencari sendiri informasi, baik dari atasan maupun dari bagian‑bagian lain, mengenai segala hal yang berkaitan dengan jabatannya serta meminta pendapat konsumen tentang barang‑barang yang dijual, pelayanan, dll.

KESIMPULAN

Job Enrichment merupakan kepuasan kerja mempunyai peranan penting terhadap prestasi kerja karyawan. Langkah-langkah dalam redesign pekerjaan untuk Job Enrichment ada lima, yaitu menggabungkan beberapa pekerjaan menjadi satu, memberikan modul kerja untuk setiap pekerja, memberikan kesempatan pada setiap pekerja untuk dapat bertanggung jawab, memberikan kesempatan pekerja menghubungi kliennya sendiri secara langsung, serta menciptakan sarana-sarana umpan balik. Jadi kondisi psikologis kritis karyawan yang muncul karena adanya dimensi utama dalam tugas akan mempengaruhi hasil kerja karyawan yang telah termotivasi secara internal. Berhasil atau tidaknya hasil kerja dalam job enrichment tergantung oleh kekuatan kayawan untuk berkembang dan berpikir positif.

SUMBER:

Sihotang. A. Drs. M.B.A. (2006).Menejemen Sumber Daya Manusia .Jakarta : PT Pradnya Paramita.

Wirawan, Sarlito. (2005).Psikologi Sosial (Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan).Jakarta :Balai Pustaka.

Sunyoto Munandar, Ashar. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Universitas Indonesia

Saturday, 2 January 2016

Tugas Softskill Minggu Ke 10 - Motivasi

A. TEORI HIERARKI KEBUTUHAN MASLOW

Teori hierarki kebutuhan Maslow adalah teori yang diungkapkan oleh Abraham Maslow. Ia beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi. Teori hierarki kebutuhan Maslow ada 5 tingkatan, yaitu:

1.  Kebutuhan Fisiologis
Ini adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan.
2.  Kebutuhan Keamanan
Ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif. Orang dewasa memiliki sedikit kesadaran keamanan mereka kebutuhan kecuali pada saat darurat atau periode disorganisasi dalam struktur sosial (seperti kerusuhan luas). Anak-anak sering menampilkan tanda-tanda rasa tidak aman dan perlu aman.
3.  Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan
Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan memberikan rasa memiliki.
4.  Kebutuhan Esteem
Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.
5.  Kebutuhan Aktualisasi Diri
Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan penyair harus menulis."

B. KEBUTUHAN YANG RELEVAN DENGAN PERILAKU ORGANISASI

Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Karena tidak mungkin memahami perilaku tanpa mengerti kebutuhannya.

Abraham Maslow (Mangkunegara, 2005) mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan manusia adalah sebagai berikut:

Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik, bernapas, seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang paling dasar.
Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan diri dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup.
Kebutuhan untuk rasa memiliki (sosial), yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai.
Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain.
Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide, gagasan dan kritik terhadap sesuatu.

Sumber:

Leavitt, J.H., 1992 Psikologi Manajemen. Jakarta: Penerbit Erlangga


Feist, Jess; Gregory J. Feist (2010). Teori Kepribadian : Theories of Personality. Salemba Humanika.

Saturday, 21 November 2015

Motivasi - Tugas 9 Psikologi Manajemen

MOTIVASI

A.    Teori Hirarki Kebutuhan Maslow
Teori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki teori hierarki kebutuhan milik Abraham Maslow. Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu:
1.      Kebutuhan Fisiologis:
Merupakan kebutuhan tingkat pertama yang paling rendah dan harus dipenuhi dan dipuaskan sebelum mencapai kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi. Kebutuhan ini terdiri dari rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya yang bersifat biologis.

2.       Kebutuhan Rasa Aman:
Kebutuhan rasa aman adalah rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional.

3.      Kebutuhan Sosial:
Kebutuhan Sosial yaitu, rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan. Kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain, pada saat ini individu akan sangat merasa kesepian dan terisolasi dari pergaulan.

4.      Kebutuhan Penghargaan:
Kebutuhan Penghargaan yaitu, faktor penghargaan internal dan eksternal, dan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri).
Kebutuhan harga diri dapat dibagi menjadi dua katagori. Pertama adalah kebutuhan terhadap kekuasaan, berpretasi, pemenuhan diri, kekuatan, dan kemampuan untuk memberi keyakinan serta kebebasan. Kedua adalah kebutuhan akan nama baik, status, keberhasilan, pengakuan, perhatian, penghargaan.

5.      Aktualisasi Diri
Aktualisasi Diri, yaitu pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri. Masing-masing orang ingin mewujudkan diri sebagai seorang yang mempunyai kemampuan yang unik. Kebutuhan ini hanya ada setelah empat kebutuhan sebelumnya dicapai secara memuaskan. Pada dasarnya bertujuan untuk membuat seluruh potensi yang ada dalam diri seseorang sebagai suatu wujud nyata yaitu dalam bentuk usaha aktualisasi diri.

Maslow memisahkan lima kebutuhan ke dalam urutan-urutan. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman dideskripsikan sebagai kebutuhan tingkat bawah sedangkan kebutuhan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri sebagai kebutuhan tingkat atas.  Perbedaan antara kedua tingkat tersebut adalah dasar pemikiran bahwa kebutuhan tingkat atas dipenuhi secara internal sementara kebutuhan tingkat rendah secara dominan dipenuhi secara eksternal.

B.     Kebutuhan yang Relevan dengan Perilaku Dalam Organisasi
Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Karena tidak mungkin memahami perilaku tanpa mengerti kebutuhannya.
Abraham Maslow (Mangkunegara, 2005) mengemukakan bahwa hierarki kebutuhan manusia adalah sebagai berikut:
1.    Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik, bernapas, seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang paling dasar.
2.    Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan diri dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup.
3.    Kebutuhan untuk rasa memiliki (sosial), yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai.
4.    Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain.
5.    Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide, gagasan dan kritik terhadap sesuatu.

Sumber:
Leavitt, J.H., 1992 Psikologi Manajemen, Alih Bahasa Zarkasi, M., Jakarta: Penerbit Erlangga.
Maslow, A. Motivation and Personality. New York: Harper & Row, 1954.
Surakhmad, Winarno.1982. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito.